Terima Kasih

Semoga suatu saat nanti, dihari yang tenang kita dipertemukan kembali; kamu yang berjauh dan aku yang sudah sembuh dari luka. Dan mungkin kita lebih berani bertukar sapa, sekali lagi.

Aku yang masih berusaha keluar dari mental illness, tidak mudah memang, bahkan beberapa kali terapi, sampai dengan ruqyah.

Benar katamu; sudahlah… Semuanya baik-baik saja.

Advertisements

Late post

Kopiku mengendap sama seperti rinduku. Saat aku sruput kala senja, kehangatannya sudah hilang, tapi sorot senja masih saja memancar dari kelopak mata.

Sebentar lagi malam, sebentar lagi hujan. Dan perempuan sudah tidak lagi menyukai malam, tidak pula dengan hujan. Ia akan cepat-cepat masuk kerumahnya dan mengunci diri dalam kamar.

Aku sruput kembali kopi yang mengendap. “eh… Rasanya kok manis? Tak kuduga, ternyata cuma kenangan.

Pulanglah

Pulanglah jika kau susah payah berlelah
Rumahmu merindumu
Sudah seharusnya kau beristirahat
Terpejamlah. Lepas segala hiruk-pikuk

Firdaus menanti
Jiwamu terlahir dari cahaya-NYA
Suci
Pulanglah untuknya
Basuh jiwamu
Agar kesucian Firdaus tak terkotori oleh noda dosa

Wahai jiwa…
Terangi dirimu dengan cahaya-NYA
Pada ketentuan berpasrahlah dengan segala
Lalu taatkan dengan bertunduk seluruh
Patri saja sabar dalam diri

Pulanglah
Firdaus menanti kala kau selesai bersuci
Seberapa lekat noda mengotori, abai saja
Maghfiroh-NYA akan menyucikan
Lalu dalam tangis sesalmu, adalah senyum-NYA
Sejengkal langkah tatihmu, kencang lari-NYA

Pulang saja
Sesungguhnya DIA selalu berbisik “pulanglah AKU merindumu, KU siapkan firdaus untukmu”

Ku ingatkan

Angin menghembus lembut, merenggut taip-tiap mata yang terjaga, menyisakan kantuk. Dinginnya mengharuskan pada siapa saja untuk berdekap pada selimut. Dedaun kemuning berguguran terlepas dari tangkainya. Bernasib sama seperti si lelaki yang tersungkur dijalan, menghembuskan nafas terahir. Pergi. Namun tak meninggalkan duka. Seisi kampung tak ada yang mendekat. “Mayat busuk, pezina, pemabuk. Tak mungkin kami akan mengurus jenazahnya, sudahlah biarkan saja.”

Tengah malam sang Sultan terperanjat dari tidur, terusik oleh mimpi. “siapkan kuda, kita akan berpatroli malam ini” seketika titah beliau kepada para ajudan.

Sang Sultan heran menyaksikan mayat itu. Tak seorangpun menyentuhnya. Tak seorangpun mengurus jenazahnya. Apa gerangan?

“dia pemabuk, dia pezina” salah seorang ajudan memberanikan diri untuk angkat bicara. “dia tiada punya kerabat dan keturunan melainkan istri saja yang tinggal bersamanya”

“bukankah dia ummat Muhammad!” Tukas Sultan bernada tinggi dengan mimik masam merona merah padam. “aku akan mengantarkannya kepada istrinya”

Tersungkurlah si istri, menangis tersedu. Dalam sekali dukanya. “apa gerangan yang membuatmu menguraikan tangis sedihmu? Bukankah dia hanya seorang pemabuk dan pezina?”

“dia bukanlah pezina, setiap pagi dia pergi keprostitusi hanya untuk memberikan beberapa lembar uang agar para pekerja disana pulang, dan tidak melakukan pekerjaannya, meskipun hanya untuk sehari. Lalu dia pulang seraya berkata “Alhamdulilah aku telah meringankan dosa-dosa orang yang akan pergi ketempat itu pada hari ini.”

Setiap hari dia pergi ketempat kedai minum-minuman dan membelinya beberapa botol untuk dibawa pulang, sesampainya dirumah ia tuangkan minuman itu ketanah dan membuangnya seraya berkata “Alhamdulilah aku telah meringankan dosa-dosa orang yang akan pergi ketempat itu pada hari ini.” ia melakukan itu tidak lain karna kecintaannya kepada Tuhannya, dan sangat menginginkan untuk mempunyai keturunan yang solih solihah.

“wahai suamiku, tidakkah kau tahu, bahwa orang hanya akan menghakimimu pada zahirnya saja, mereka akan mengatakan bahwa kau adalah pezina, kau adalah pemabuk” sanggahku. “dan ketika ajalmu datang, tak akan ada yang akan mengurus jenazahmu.”

Namun dia hanya tertawa dan berujar “kelak ketika ajalku datang, sultanlah yg akan mengurus janazahku, para mentri, ulama, dan kaum muslimin yang akan mensholatkanku”

Sang Sultan tertunduk, gemetar, lunglai, bercucur airmata, lalu bergumam “Demi Allah akulah sang Sultan, akulah Sulaiman Al-Qonuni. Demi Allah aku akan mengurus jenazah suamimu dengan tanganku sendiri, dan aku akan mengumumkan kepada segenap jajaran mentri, ulama, dan kaum muslimin untuk mensholatkan jenazahnya, dan menguburkannya dipemakaman para Sultan dinasti Utsmani.”

Dan konon inilah sholat jenazah teramai sepanjang sejarah.

Kau tahu? Tak semua orang yang dalam pandanganmu busuk, bisa jadi ia lebih mulia darimu. Bisa jadi orang yang kau gunjing keburukannya, pada malam hari ia sujud, larut dalam penyesalan dan bertaubat. Kau sibuk dengan keburukannya, sedangkan dia masyghul dengan segala sesalnya.

Tahanlah lidahmu.

Ku ingatkan. Mengajak kepada kebaikan bukanlah dengan menghakimi. Menasehati kebaikan bukanlah dengan mencaci. Ulurkan tanganmu, rangkul sahabatmu, berpeluklah dalam dekapan ukhuwah, tumbuhkan rasa cinta untuk saudaramu karena dan hanya untuk-NYA

#kisah disadur dari salah satu buku dinasti utsmani

Tangis

Ingin aku beli krayon dan melukiskannya kelangit, agar tak lagi mendung. Tapi itu mustahil, semustahil ketika aku ingin menyirnakan muram pada wajahmu.

Dan, selalu saja gelapnya mendung mengundang rintik hujan. Aku tak ingin ada hujan, karena sering kali pipimu dibuat basah olehnya.

Kau tahu? Acap kali langit dadaku bergemuruh saat matamu menitikkan hujan. Sayangnya katika hujan itu reda tak ada bias pelangi. Tapi menurutku pelangi itu tak lebih indah dari kelopak matamu, itupun kalau matamu tak meneteskan tangis.

Ayolah jangan menangis, aku hanya ingin melihat langit senja ada dimatamu. Indah. Tanpa harus ditutup oleh mendung.